Posts

Showing posts from 2020

Sin

Ya Ghofur.. ampunilah dosaku, selama menjadi anak terlalu banyak dosa terhadap kedua orang tua. Selama menjadi seorang istri kurang taat kepada suami. Mungkin dengan menuliskan semua hal ini adalah keliru. Tapi dengan begini aku bisa lega, ku limpahkan semua rasa mengganjal di hatiku. Ya Allah.. Engkaupun Maha Tahu semua perjalanan hidupku. Aku tak mau menjadi manusia kufur nikmat. Trauma ini sungguh sangat membatin.  Tolong rangkul aku selalu Ya Allah.. agar aku tegar menjalani terjalnya kehidupan. Terima kasih Ya Rahman.. atas semua teguran-Mu untuk menyadarkan aku.

Anakku Pereda Lukaku

Itulah sebab ku dahulu mengharapkan anakku terlahir seorang lelaki. Karena aku trauma, ku tak sanggup jika anakku seorang perempuan mendapat perlakuan diremehkan oleh lelaki. Dahulu pernah berjanji, jika anakku lelaki akan ku ajarkan dia bagaimana semestinya memuliakan perempuan. Allah tak pernah salah atas kehendaknya, terima kasih Ya Allah kau sudah menetapkan, menganugerahkan anak perempuan yang cantik dan kini menjadi obat pereda lukaku. Sayangku, dengan buliran air mata ini mama memohon kepada sang Khalik. Agar kau menjadi anak sholehah, tegar, anak yang selalu menebar kebaikan dan berbahagia selalu.

Tak Mudah Menjadi Seorang Perempuan

Perempuan setelah menikah diwajibkan mengutamakan bakti terhadap suami, dibanding terhadap orangtua nya. Segala apapun harus mendahulukan kepentingan suaminya. Tetapi tidak bagi lelaki. Lelaki sebelum atau sesudah menikah harus mengutamakan bakti terhadap orangtua nya. Kenyataanya, tak sedikit istri mendapatkan perlakuan dzolim dari suaminya. Baik itu kekerasan fisik, verbal dan juga perlakuan suami yang membuat batin istri terguncang. Dan jika hati perempuan sudah tidak mampu menahan rasa sakit, kepada siapa lagi dia mencari tempat berlindung melainkan kepada kedua orang tuanya? Tak mudah menjadi seorang perempuan.

IRT Tak Bepenghasilan

Semasa single bekerja hanya demi keluarga. Sampai tabungan pun habis untuk keluarga. Setelah sudah menikah punya anak jadi full mom, uang bulananpun habis untuk keperluan RT. Gak ada bagi istri untuk berfoya-foya, jalan-jalan, beli barang branded atau skincare. Suami masih mengira istri boros, gak dipercaya sampai dibatasi jatah bulanannya. Sudah begini harta apa yang istri punya? Hasil dari saat dulu bekerja pun gak ada. Alhamdulillah Allah menitipkan anak yang lebih berharga dari apapun. Itulah satu-satunya harta seorang ibu :)

Dilema Full Mom atau Mom Worker

Dilema saat dihadapkan antara menjadi full mom atau mom worker. Keinginan bekerja lagi dan mandiri selalu menghantui. Tetapi hati kecil berkata "aku ingin selalu bersama anakku". Agar bisa mendidiknya dan menemaninya tumbuh berkembang.  Kalau saja didikan orang tuaku tak keras, pasti ku tak ragu menitipkan cucu kepada kakek neneknya. Lagi pula, aku merasa tak mau menambah beban orang tua yang sudah sakit-sakitan dengan dititipi anak 12 jam, lebih mungkin. Tak mau juga jika aku bekerja menyewa baby sitter, aku tak tercaya menitipkan anakku kepada orang lain. Tapi sangat terasa, menjadi wanita karir tidak semudah itu diremehkan, dibanding menjadi IRT.

Trauma

Rasa trauma ini masih membekas. Terlahir dari keluarga tidak harmonis. Dengan didikan yang keras, dan sering KDRT. Bahkan setelah menikahpun rasa trauma itu tidak hilang. Sampai takut memiliki anak perempuan, karena tak mau dia bernasib sama seperti ibunya. Memang suami saat ini tak pernah KDRT, tapi perlakuannya membuat aku merasa 'hadirku terpaksa di dalam kehidupannya'. Terlebih aku baru tahu dia di masa lalunya, yang tidak sengaja Allah beritahu saat aku sedang mengandung. Sakit memang, tapi aku gak mau gegabah. Aku gak mau stuck di masa lalu, aku memaafkan. Namun entah mengapa sampai saat ini, aku merasa tidak sama sekali dianggap spesial oleh suamiku sendiri. Bahkan dari sejak menikah, tidak pernah keluar dari mulutnya kata "sayang/cinta" kepadaku. 

Salahkah Dengan Segala Unek-unek Ini?

Kebaikan suami: 1. Gak pernah banyak nuntut 2. Gak pernah KDRT verbal/fisik 3. Kondisi finansial Alhamdulillah baik 4. Baik terhadap siapa aja 5. Jarang marah 6. Bertanggung jawab Kekurangan suami menurut saya: 1. Stay hp & laptop terus, entah buka sosmed atau nonton sebagai penghilang penat. Bangun tidur cek hp, pulang kerja pegang hp/laptop, liburan juga pegang hp/laptop 2. Kesenangan dia traveling sama temannya sebagai pereda stress 3. Merasa gak membutuhkan saya 4. Gak pernah posting saya sebagai istrinya 5. Gak romantis 6. Gak perhatian 7. Cuek 8. Karena semua poin diatas, saya merasa posisi saya gak pernah dibutuhkan (mulai su'udzon) 9. Kalau lagi main sama anakpun sambil dia fokus ke hp & laptop, kalau udah pegang kedua benda itu pun dia gak pernah dengar apa saya ngomong 10. Saya merasa dia nikahin saya karena tuntutan orang tuanya untuk cepat-cepat nikah, bukan karena ada rasa 100% sama saya (mulai su'udzon) Kalau sudah merasa lelah, saya kembali flashback rasa...

A New Mom

Ini adalah unek-unek yang udah gak tahan gue pendam. Anak gue gak bisa ditinggal walau sebentar, mesti ada yang nemani. Begitupun keadaan sedang tidur, kalau dia tau gak ada orang pasti nangis. Dan dia juga lebih dekat sama neneknya, apalagi kalau dia udah rewel maunya sama neneknya. Setelah gue renungi apa yang salah? mungkin ini jawabnya, disebabkan karena kesalahan gue. Sekedar flashback, dulu saat nikah gue gak pernah terpikir untuk segera punya anak. Justru gue pengen nunda, masih pengen kerja, masih mau ngejar semua impian gue. Rencana gue kalau semua sudah ok terwujud, barulah gue fokus ke anak dengan tidak mencampur adukan urusan kerjaan sama rumah tangga. Ya, dari sebelum nikah pun gue punya prinsip gak mau kerja kalau punya anak, supaya gue bisa fokus 100% ngurusnya dan ngedidiknya. Because I know my limit. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Dan gue tau kelemahan gue, gue gampang stress dan fisik mudah sakit. Itulah kenapa gue pilih untuk gak kerja kalau ada anak, a...