Posts

Refleksi Diri

Hanya sekedar mencurahkan unek-unek agar tetap waras. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Pernikahan gue dan suami sudah memasuki tahun ke 7, dan 6 bulan lagi tepat 8 tahun usia pernikahan kami. Begitu banyak hal yang gue lewati. Mungkin tulisan ini sekedar refleksi diri, agar gue tidak menjadi manusia kufur nikmat. Dan tiada orang hidup tanpa ujian, tiada juga orang hidup selalu dalam kesusahan. Kesedihan dan kebahagian, Allah berikan secara beriringan agar hidup ini menjadi balance.  Baiklah.. kali ini gue akan menuliskan apa saja yang menjadi ujian dan hal yang patut gue syukuri dalam kehidupan pernikahan gue. Kebebasan yang gue beri ke suami : Gue gak pernah larang hobinya traveling. Gue gak protes dia selalu membantu sodaranya, bahkan tanpa sepengetahuan gue atau minta izinnya belakangan. Gue selalu memaklumi sifatnya yang cuek. Ya karena sifat cueknya itu kadang ocehan gue dianggap angin lalu. Gue selalu menghindari perdebatan, karena gue gak mau anak melihat pertengkaran ...

Sin

Ya Ghofur.. ampunilah dosaku, selama menjadi anak terlalu banyak dosa terhadap kedua orang tua. Selama menjadi seorang istri kurang taat kepada suami. Mungkin dengan menuliskan semua hal ini adalah keliru. Tapi dengan begini aku bisa lega, ku limpahkan semua rasa mengganjal di hatiku. Ya Allah.. Engkaupun Maha Tahu semua perjalanan hidupku. Aku tak mau menjadi manusia kufur nikmat. Trauma ini sungguh sangat membatin.  Tolong rangkul aku selalu Ya Allah.. agar aku tegar menjalani terjalnya kehidupan. Terima kasih Ya Rahman.. atas semua teguran-Mu untuk menyadarkan aku.

Anakku Pereda Lukaku

Itulah sebab ku dahulu mengharapkan anakku terlahir seorang lelaki. Karena aku trauma, ku tak sanggup jika anakku seorang perempuan mendapat perlakuan diremehkan oleh lelaki. Dahulu pernah berjanji, jika anakku lelaki akan ku ajarkan dia bagaimana semestinya memuliakan perempuan. Allah tak pernah salah atas kehendaknya, terima kasih Ya Allah kau sudah menetapkan, menganugerahkan anak perempuan yang cantik dan kini menjadi obat pereda lukaku. Sayangku, dengan buliran air mata ini mama memohon kepada sang Khalik. Agar kau menjadi anak sholehah, tegar, anak yang selalu menebar kebaikan dan berbahagia selalu.

Tak Mudah Menjadi Seorang Perempuan

Perempuan setelah menikah diwajibkan mengutamakan bakti terhadap suami, dibanding terhadap orangtua nya. Segala apapun harus mendahulukan kepentingan suaminya. Tetapi tidak bagi lelaki. Lelaki sebelum atau sesudah menikah harus mengutamakan bakti terhadap orangtua nya. Kenyataanya, tak sedikit istri mendapatkan perlakuan dzolim dari suaminya. Baik itu kekerasan fisik, verbal dan juga perlakuan suami yang membuat batin istri terguncang. Dan jika hati perempuan sudah tidak mampu menahan rasa sakit, kepada siapa lagi dia mencari tempat berlindung melainkan kepada kedua orang tuanya? Tak mudah menjadi seorang perempuan.

IRT Tak Bepenghasilan

Semasa single bekerja hanya demi keluarga. Sampai tabungan pun habis untuk keluarga. Setelah sudah menikah punya anak jadi full mom, uang bulananpun habis untuk keperluan RT. Gak ada bagi istri untuk berfoya-foya, jalan-jalan, beli barang branded atau skincare. Suami masih mengira istri boros, gak dipercaya sampai dibatasi jatah bulanannya. Sudah begini harta apa yang istri punya? Hasil dari saat dulu bekerja pun gak ada. Alhamdulillah Allah menitipkan anak yang lebih berharga dari apapun. Itulah satu-satunya harta seorang ibu :)

Dilema Full Mom atau Mom Worker

Dilema saat dihadapkan antara menjadi full mom atau mom worker. Keinginan bekerja lagi dan mandiri selalu menghantui. Tetapi hati kecil berkata "aku ingin selalu bersama anakku". Agar bisa mendidiknya dan menemaninya tumbuh berkembang.  Kalau saja didikan orang tuaku tak keras, pasti ku tak ragu menitipkan cucu kepada kakek neneknya. Lagi pula, aku merasa tak mau menambah beban orang tua yang sudah sakit-sakitan dengan dititipi anak 12 jam, lebih mungkin. Tak mau juga jika aku bekerja menyewa baby sitter, aku tak tercaya menitipkan anakku kepada orang lain. Tapi sangat terasa, menjadi wanita karir tidak semudah itu diremehkan, dibanding menjadi IRT.

Trauma

Rasa trauma ini masih membekas. Terlahir dari keluarga tidak harmonis. Dengan didikan yang keras, dan sering KDRT. Bahkan setelah menikahpun rasa trauma itu tidak hilang. Sampai takut memiliki anak perempuan, karena tak mau dia bernasib sama seperti ibunya. Memang suami saat ini tak pernah KDRT, tapi perlakuannya membuat aku merasa 'hadirku terpaksa di dalam kehidupannya'. Terlebih aku baru tahu dia di masa lalunya, yang tidak sengaja Allah beritahu saat aku sedang mengandung. Sakit memang, tapi aku gak mau gegabah. Aku gak mau stuck di masa lalu, aku memaafkan. Namun entah mengapa sampai saat ini, aku merasa tidak sama sekali dianggap spesial oleh suamiku sendiri. Bahkan dari sejak menikah, tidak pernah keluar dari mulutnya kata "sayang/cinta" kepadaku.