A New Mom

Ini adalah unek-unek yang udah gak tahan gue pendam. Anak gue gak bisa ditinggal walau sebentar, mesti ada yang nemani. Begitupun keadaan sedang tidur, kalau dia tau gak ada orang pasti nangis. Dan dia juga lebih dekat sama neneknya, apalagi kalau dia udah rewel maunya sama neneknya.

Setelah gue renungi apa yang salah? mungkin ini jawabnya, disebabkan karena kesalahan gue.

Sekedar flashback, dulu saat nikah gue gak pernah terpikir untuk segera punya anak. Justru gue pengen nunda, masih pengen kerja, masih mau ngejar semua impian gue. Rencana gue kalau semua sudah ok terwujud, barulah gue fokus ke anak dengan tidak mencampur adukan urusan kerjaan sama rumah tangga. Ya, dari sebelum nikah pun gue punya prinsip gak mau kerja kalau punya anak, supaya gue bisa fokus 100% ngurusnya dan ngedidiknya. Because I know my limit. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Dan gue tau kelemahan gue, gue gampang stress dan fisik mudah sakit. Itulah kenapa gue pilih untuk gak kerja kalau ada anak, agar gue bisa imbangi mental dan fisik gue, supaya gak pengaruh buruk ke anak.

Dan gue salut sama ibu2 yang bisa bekerja sambil urus rumah tangga ☺️ tapi gue belum bisa seperti mereka.

Balik lagi ke kesalahan gue yang "mungkin" membuat dia rewel kalau ditinggal dan lebih nyaman sama neneknya. 

Kesalahan pertama gue, saat tau gue hamil, gue merasa banyak perubahan di fisik dan mental gue. Selain badan ringkih, gue mesti menebalkan dinding iman supaya gak stress, terlebih lagi gue orang yang sensif tambah pula keadaan hamil yang bikin emosi rapuh. Rutinitas yang gue jalani selama hamil sambil bekerja sangat berat gue rasain, belum pula stress di tempat kerja. Dan keadaan badan yang ringkih buat gue sering sakit-sakitan selama hamil. Kadang gue cuma bisa nangis, menggerutu kenapa sih hamil gak enak gini rasanya, ternyata rasanya gak seperti yang gue pikirkan saat lihat ibu-ibu hamil masih kuat bekerja. Dan gue sadar fisik orang beda-beda, sekali lagi gue salut sama ibu-ibu yang kuat bekerja saat hamil, gue lemah gak bisa seperti mereka 🙂

Saat udah stress dengan beban yang dirasa sendiri, gue pernah punya pikiran jelek agar "keguguran" aja sekalian supaya gue gak punya beban, daripada gue sakit-sakitan terus. Makan gak enak, aktifitas gak nyaman, ibadah puasa juga tertinggal. Sampai saat masuk hamil 5 bulan gue pendarahan, dan saat itu gue masih nyimpen pikiran jelek "keguguran".

Ternyata Allah masih memberi dia kesempatan. Dokter bilang kandungan gue lemah dan akhirnya dia kuat dalam rahim gue. Saat gue pertama kali ngerasain tendangan kecil dia di dalam perut gue, saat itu juga gue ubah pikiran gue untuk lebih "menyayangi" anak yang sedang gue kandung. Iya dengan sangat berat hati gue memutuskan resign dari pekerjaan 🙂 mulai dari situ gue berjanji sama janin dalam kandungan gue untuk lebih fokus menjaga dan menyayangi dia.

Setelah gue gak bekerja, gak bisa dipungkiri hari-hari gue awalnya hampa. Seiring kehamilan semakin besar, gue nikmati semua beban di perut dan mulai lupa dengan kangennya bekerja. Tapi gue bikin kesalahan kedua, gue berharap bayi yang gue kandung laki-laki, agar kelak dia tumbuh jadi anak yang kuat gak seperti gue yang cengeng. Tapi saat USG dokter prediksi anak gue perempuan, di situ gue mengira hasil USG keliru. Tidak mau kecewa, gue ubah mindset gue, anak laki atau perempuan mesti disyukuri, gue tetap menyiapkan nama yang terbaik buat calon bayi perempuan gue.

Sampai pada waktunya dia lahir pun dia lama untuk keluar, mungkin dia takut kalau gue gak bisa nerima dia. Saat malam kelahiran dia, di RS neneknya bilang "ayo keluar neng, nenek nungguin mau gendong dede", entah keajaiban apa gak lama gue ngerasain kontraksi dan pembukaan yang cepat. Padahal sebelumnya diinduksi dari pagi gak berasa kontraksi, hanya saja ketuban rembes terus sampai malam.

Dan kesalahan gue ketiga, saat dia lahir dengan BB kecil, gue merasa sedih. Mungkin karena dulu gue gak doyan makan, saat 4 bulan hamil pertama hampir gak masuk nasi. Dan gak bisa menjaga stress gue saat sedang mengandung. Selama dua bulan setelah melahirkan dia, bisa dikatakan gue terkena baby blues syndrom. Ya merasakan sakit pasca melahirkan, ternyata menyusui pertama kali juga sakit, ditambah lagi anak sering nangis di malam hari, bikin kesehatan gue down dan sakit kepala selama 7 hari 7 malam gak hilang sejak kelahiran dia. Saat gue lagi stress dan mencoba menahan stress demi anak, tambah lagi omongan-omongan lingkungan sekitar yang bikin down. Segala banding-bandingin gue dengan ibu-ibu lain, yang bilang "gitu aja lebay". Sekali lagi tiap orang memiliki kapasitas yang berbeda, dan gue salut sama ibu-ibu hebat diluar sana, gue masih belum bisa seperti mereka 🙂

Beruntun dari kesalahan gue yang ketiga, pernah 2 kali gue marahin dia saat malam hari dia rewel dan saat di kontrakan gue merasa kewalahan sendiri. Tapi setelah gue marahin, dia tetap menyusu sambil ngedekap gue, dia masih ngasih senyumannya ke gue saat dia udah tenang. Gue merasa bersalah dan nangis 😢 saat itu gue belajar untuk mengelola emosi gue pelan-pelan. Mau sekesal apapun gue, mau secapek apapun lebih baik pendam sendiri aja, gue gak mau luapin, karena tiap gue luapin pasti gue emosi terus nangis dan itu ngaruh ke anak. Walau gue tau memendam juga suatu saat bakal jadi bom waktu

Gue sempat berpikir ingin kerja lagi, tapi hati kecil gue 100% berkata ingin selalu bersama Khalisa. Oke gue ikhlas, mungkin gue akan merencanakan karir lagi saat anak udah gede, kurang lebih selesai menyusui. Atau gue cari pekerjaan fleksibel yang bisa sambil ngurus anak. Entahlah kedepan gimana tapi itu baru rencana.

Gue berusaha untuk membuat bonding ke dia agar tidak ketergantungan terus sama neneknya. Tapi ada lagi omongan yang gak ngenakin "mending kerja bocah lagi umur segini, mumpung belum kenal ibunya, kalau nanti kerja udah gede mah susah ditinggal kalau kenal ibunya".

What??? Jadi anak gue gak boleh gitu mengenal gue sebagai ibunya? 🙂

Tambah lagi saat gue capek dan kewalahan, ada saran untuk nyerahin dia ke pembantu, gue kerja aja untuk bayar itu pembantu. Itu semua bukan solusi, saat seperti ini gue hanya butuh support.

Ya itulah kesalahan-kesalahan gue yang menyebabkan dia gampang rewel, gak mau ditinggal dan tenang kalau sama neneknya aja 🙂 dia benar-benar membutuhkan kasih sayang yang tulus.

Tapi disamping itu di umurnya sekarang 3 bulan, dia tumbuh jadi anak yang cantik, pintar, lincah, sering tersenyum dengan orang banyak, senang merespon kalau diajak bicara dan perkembangannya sangat cepat. Yang saat lahir BB nya kecil, sekarang udah gemuk dan montok.

Gue cuma mau pertahankan itu, keceriaan dia. Jangan sampai dia hilang senyumnya dan jangan sampai dia merasa gak nyaman kalau bersama gue, saat kita berdua aja di rumah sendiri nanti. Walau tempat tinggal sekarang masih dekat dengan neneknya. Bukannya gue gak mau mandiri,  karena gue tau kapasitas gue, suatu saat kewalahan pasti gue butuh bantuan, gue gak mau numpuk beban stress lagi saat gue kewalahan nanti, gue gak mau malah jadi kebablasan sama dia 🙂 Gue masih harus belajar.

Bukan maksud membuka aib atau caper. Ini semua sekedar curahan unek-unek gue dan pengakuan kesalahan. Hanya agar hati gue plong, dari selama ini gue merasa kurang nyaman dengan keadaan sekarang dan mencoba untuk menyesuaikan peran baru gue.

Baby K sayangku, ibu tau kamu sudah mulai mengerti setiap omongan dan ekspresi dari tiap orang yang ditunjukan kepadamu. Ayo nak ibu mau belajar jadi ibu yang seutuhnya, dede kurangi rewelnya ya sayang ☺️

Comments