Tentang Rasa..


Sekedar jeritan hati yang ingin bersua, tentang perasaan ini dan tentang dirimu..

Setahun lalu tepatnya di usiaku yang ke-24 tahun, saat aku dalam keterpurukan, berusaha mengikhlaskan semua yang telah menjadi masa lalu, merelakan dan akhirnya hati mendapatkan ketenangan untuk melepaskan kenangan yang hanya menjadi beban.
Tak di sangka pula Allah menghadirkan kamu. Ya, yang awalnya kita hanya sekedar teman dalam satu grup komunitas di facebook, salah satu media sosial tersohor yang tak sedikit pula orang-orang dipertemukan lewat perantaranya, termasuk jodoh.

Namun, aku tidak tahu, apakah takdirku seperti orang-orang kebanyak demikian?
Awalnya kita hanya saling sapa dan saling mengomentari tulisan masing-masing.
Entah bagaimana selanjutnya kita berteman dan saling bertukar kontak, lalu beberapa kali bertemu.
Jujur, aku mengagumi mu, mengagumi sudut pandangmu yang tertuang di setiap bait-bait kata dalam tulisanmu.
Entah perasaan apa pula, terkadang kamu terlintas dalam pikiranku. Ah, aku menyangkal, mungkin itu hanya perasaan kagumku saja. Karena terlalu excited setiap membaca karya tulismu.
Tapi entah mengapa, secara tidak sadar aku mendoakan mu di setiap kamu melintas dalam pikiranku.
Kadang terpikir, apa mungkin aku jatuh cinta kepada mu? Apa boleh aku mendoakan mu dan berharap lebih kepada Illahi? Ah, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, jangan lagi gegabah dalam hal perasaan.
Kalaupun iya, aku rasa tidak mungkin, karena aku typical wanita yang tak berani menyampaikan perasaan kepada siapa hati ini menjatuhkan pilihannya. Dan untuk menggapai mu, terlalu jauh mimpiku.

***

Bulan-bulan berlalu dengan rutinitasku yang serba hectic, aku perlahan mulai lupa dengan apa yang aku rasakan. Dan kitapun sudah jarang saling sapa, bahkan akupun sudah lama tak mengembangkan karya tulisku lagi. Apa yang bisa kita bahas selain tulisan? tidak ada. Maka tak heran juga kalau kita tidak intens dalam hal komunikasi, apalagi pertemuan.
Lalu, malam itu tiba-tiba kamu menyapa sekedar menanyakan kabar. Namun ada yang aneh, entahlah kenapa setelah lama tak bersua, kamu langsung menceritakan keadaanmu dan kegalauanmu tentang pendamping hidup.
Kamu juga bercerita sedang menaksir seorang wanita, namun belum sempat untuk mengutarakannya.

Ku rasa, kamu mungkin butuh masukan. Tapi hati ini penasaran, serasa ada yang mendorong dan berbisik untuk mengintrogasi kamu 'kenapa tiba-tiba kamu menceritakan hal privasimu kepada ku?'
Sampai akhirnya kamu menjawab, bahwa kamu menyimpan rasa kepada ku. Seketika aku terkejut. Sempat tak percaya, ternyata wanita itu adalah aku. Saat itu juga aku sekuat mungkin menjaga hati, agar tak terhanyut dalam perasaan yang bergejolak.

***

Setelah malam itu, kita tak saling bersua kembali. Selang sebulan kemudian kamu kembali menyapa lagi. Dan kali ini bukan hanya sekedar 'say hello', lebih dari yang aku duga, kamu mengutarakan niat untuk menjalin hubungan yang lebih serius, yaitu menikahi ku.
Sempat aku berpikir, Ya Allah, orang yang pernah aku kagumi, benarkah?

***

Aku tak bisa menghalangi niat baikmu, terlebih kamu yang pernah aku harapkan namun sempat pula aku lupakan.
Semua tak mungkin tanpa ujian, begitupun dengan niatanmu.
Honestly, aku sempat bimbang. Apakah benar kamu? Apakah kamu hanya sekedar iseng-iseng berhadiah? Apakah kamu perlu tahu? kalau kebimbanganku muncul karena sikapmu yang selama ini dingin kepada ku.
Tak jarang juga aku melihat setiap postinganmu di media sosial, seolah kamu sedang mengharapkan sosok yang lain.
Ketahuilah, meski kamu telah mengutarakan niat baikmu, aku masih sekuat mungkin menjaga hati ini. Agar aku tak jatuh dalam kekecewaan kelak, jika semua tidak sesuai harapan.

***

Setahun sudah kita saling kenal dan berteman.
Sampai pada kamu menemui orang tuaku. Memang prosesnya sangat panjang ya :)
Tapi aku selalu memohon kepada Illahi, jika memang berjodoh maka kuatkanlah keyakinanku akan dirimu.
Karena kadang hati ini masih bertanya, sebenarnya seperti apa hatimu? setulus apa perasaanmu kepada ku? Terlebih, jujur aku selalu bertanya dalam hati karena sikapmu yang masih dingin kepada ku.
Ah, mungkin ini salah satu godaan setan, aku berusaha membangun pikiran positif.
Bukan karena cinta buta pula, keyakinan itu muncul kembali saat aku menimbang tindakanmu juga, yang berani untuk berkomitmen daripada sekedar menebar rayuan gombal. Selaras dengan prinsip diri ini, yang tak mau bermain-main dengan cinta. Keseriusan, tanggung jawab dan komitmen yang aku butuhkan.
Dan beberapa pengharapanku kepada Illahi, ada dalam dirimu. Berteman hidup dengan teman sendiri, mungkinkah? semoga saja :)

***

Yah, saat ini aku hanya menyiapkan senjata dan tameng dalam hidupku. Yaitu kesiapan dan keihklasan. Aku masih menunggu ketetapan-Nya. Jika kita memang berjodoh, aku selalu memohon ridho dari-Nya. Jika tidak, maka aku harus siap mengikhlaskan tanpa rasa kecewa :)
Tapi satu hal yang sudah aku niatkan (bukan janji manis), kelak kita dipersatukan untuk hidup bersama, aku akan berusaha menjadi pendamping hidupmu sebaik mungkin. Bukankah sebenar-benarnya cinta adalah memberi dengan tulus tanpa diminta?
Ya, mungkin hanya itu yang Insya Allah aku lakukan. Terlepas bagaimana isi hatimu, aku sampai kapanpun tidak akan pernah bisa membacanya.

Comments