Hujan Di Bulan Juli
Nampaknya hujan bisa turun kapanpun, tidak hanya saat musim saja. Namun, tidak selalu hujan mendatangkan badai, setelahnya akan indah dihiasi bias pelangi.
Juli..
Lagi-lagi.. Aku merasakannya di bulan Juli. Kegamangan hati yang terulang kembali. Seperti di saat Juli sebelumnya.
Sempat ku bertanya kepada Tuhan, kenapa mesti di bulan kelahiranku? Yang mana bagi sebagian orang itu harusnya menjadi waktu yang membawa kebahagiaan.
Lagi-lagi.. Aku merasakannya di bulan Juli. Kegamangan hati yang terulang kembali. Seperti di saat Juli sebelumnya.
Sempat ku bertanya kepada Tuhan, kenapa mesti di bulan kelahiranku? Yang mana bagi sebagian orang itu harusnya menjadi waktu yang membawa kebahagiaan.
Namun, kali ini hati dan pikiranku sedang sejalan. Aku sadar
manusia memiliki batas waktunya di dunia ini. Semakin bertambah usia, semakin
sedikit kesempatan untuk memijakan kakinya di bumi.
Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan yang bertambah khilaf untuk disadari.
Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan yang bertambah khilaf untuk disadari.
Hanya dengan hitungan tahunlah, waktu yang sangat signifikan mengingatkan manusia bahwa usianya semakin bertambah namun batas hidupnya semakin berkurang.
Dan saat itulah Tuhan mengingatkanku kembali, untuk mereview
pencapaian hidupku.
Apakah diri ini bertahap sudah berproses menjadi manusia yang baik? Sebaliknya? Atau tidak berubah sama sekali?
Apakah diri ini bertahap sudah berproses menjadi manusia yang baik? Sebaliknya? Atau tidak berubah sama sekali?
Tuhan memang paling tahu cara yang tepat untuk mengingatkanku kembali.
Dia tahu kelemahan ku ada pada perasaan. Bukan sekali dua kali Dia menegurku langsung dengan menyentil hati ini.
Tak apalah aku sudah terbiasa dengan hal demikian. Walau air mata rasanya sudah kering, bahkan sulit sekali menetes, namun tak bisa dipungkiri hati ini terasa sekali sesaknya.
Dia tahu kelemahan ku ada pada perasaan. Bukan sekali dua kali Dia menegurku langsung dengan menyentil hati ini.
Tak apalah aku sudah terbiasa dengan hal demikian. Walau air mata rasanya sudah kering, bahkan sulit sekali menetes, namun tak bisa dipungkiri hati ini terasa sekali sesaknya.
Terima kasih Tuhan, Kau masih peduli kepadaku, Kau masih menginginkan ku.
Ku anggap segala kegamangan, kegelisahan, kegundahan yang berkecamuk dalam hati ini sehingga duka yang ku rasakan, adalah tanda cinta kasih dari-Mu.
Ku anggap segala kegamangan, kegelisahan, kegundahan yang berkecamuk dalam hati ini sehingga duka yang ku rasakan, adalah tanda cinta kasih dari-Mu.
Aku bersyukur Kau menegurku dengan cara halus yang tepat sekali sasarannya di hatiku.
Aku bersyukur, tidak Kau menghukum ku dengan berupa adzab yang perih. Naudzubillahi mindzalik.
Biarkanlah, kali ini hujan turun di bulan Juli. Meski
mendung kelabu nan sendu. Tapi tidakkah Tuhan meyiratkan segala nikmat-Nya pada
setiap tetesan hujan?
Di setiap tetesan hujan terdapat keberkahan.
Di setiap tetesan hujan merupakan sebuah rizki.
Di setiap tetesan hujan terdapat keberkahan.
Di setiap tetesan hujan merupakan sebuah rizki.
Di setiap tetesannya memberi kesejukan.
Di setiap tetesan hujan terselip kasih sayang-Nya.
Dan di setiap tetesan hujan, Tuhan menunggu hamba-Nya seraya berkata; "Berdoalah maka akan Aku kabulkan" (QS. Al-Mu’min: 60).Terdapat waktu yang sangat mustajab dan paling berharga dari turunnya hujan, yang mana setiap tetesnya akan mengaamiinkan sebagai pengantar doa-doa yang terucap maupun terselip didalam Hati.
Maka kali ini, aku tidak lagi menyesali akan turunnya hujan.
Bahkan mungkin aku mulai mencintai hujan dan bisa jadi aku menantikan
kehadirannya. Karena di saat turun hujan aku merasakan kedamaian, di
saat itu juga aku tahu bahwa Tuhan sedang dekat dengan ku.
Picture source : shutterstock.com

Comments
Post a Comment